Ngaji Tawasuf kepada KH Hariri (3): CINTA SUFI

ADMINPESANTREN Sabtu, 15 Desember 2018 08:26 WIB
808x ditampilkan Opini

Oleh Khalil Abdul Jalil

 

Di antara cerita yang paling terkenal dalam keseharian KH Hariri Abdul Adhim adalah kisah tentang bagaimana beliau berinterksi atau memperlakukan semut. Cerita ini menarik karena banyak saksinya, sering terjadi. Kisah ini menjadi lebih menarik karena al-Qur’an juga mengisahkan tentang Nabi Sulaiman yang mempu memahami bahasa binatang, salah satunya semut. Ahmad Hafidz, santri Ma’had Aly Angkatan V bercerita. suatu hari, ada seekor semut di baju beliau. Melihat kejadian tersebut, Hafidz meminta izin untuk membunuh semut tersebut. KH Hariri sontak dawuh, “ Jangan kamu bunuh, Fid! Kasihan..., ambilkan tisu!”.

Cerita kedua disampaikan Ainun Na’im. Pada saat KH Hariri pulang dari Kantor Pusat Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, semut merah besar (kaleng) merayap di bajunya,sesaat beliau sadar ada semut tersebut, beliau meminta, “Na’im... yak anterrahgi kaleng reya ka kancana...! (Na’im, antarkan semut ini ke teman-temannya).

Selain kisah-kisah di atas, masih banyak kisah-kisah lain seputar semut. Hanya saja, penulis mencukupkan pada dua cerita tersebut dengan mempertimbangkan aspek representasinya bagi kisah-kisah yang serupa. Lebih-lebih, tulisan ini bukan sekedar ingin menampilkan kisah ansich, tetapi juga berusaha mengungkap dimensi bathin dari cerita.

Yang perlu dipahami lebih awal tentunya ini berkaitan dengan Modus pengetahuan-sudah diulas secara singkat pada artikel pertama-yang berbeda dengan pengetahuan non sufistik. Perbedaan modus pengetahuan itulah yang menyebabkan perbedanya sikap dan tindakan. Dengan istilah lain, To know sangat erat kaitannya dengan to be dan to do.

 Pengetahuan seseorang berhubungan erat dengan sikap dan tindakan. Orang awam yang mengetahui bahwa semut adalah semata hewan yang menggigit. Maka akan memiliki sikap khawatir, jijik, benci atau takut terhadap semut. Sikap ini melahirkan tindakan, bunuh saja!. Karena semut menurut mereka hanyalah binatang.

Berbeda dengan awam, Perilaku sufi kerap berbeda sama sekali. Perbedaan ini muncul karena perbedaan pengetahuan dan sudut pandang. Sufi melihat semut sebagai tajally ilahiyah sehingga perpektifnya adalah cinta ilahiyah bukan kekhawatiran apalagi kebencian. Mereka bersikap dan bertindak atas nama cinta. Jadi, cinta adalah modus tindakan.

Dalam tradisi tasawuf, cinta adalah kekuatan besar yang mendorong sufi untuk selalu dekat kepada Kekasihnya, yaitu Allah. Baginya cinta adalah dasar kreatifitas, dan cinta pulalah yang menyebabkan Allah mencipta alam semesta. Bahkan bisa dikatakan bahwa cinta adalah sifat Ilahiyah yang menjadikan alam semesta mewujud, pernyataan ini bisa pula diungkapkan dengan kalimat lain, yaitu alam semesta adalah wujud cinta Tuhan.

Jalaluddin Rumi juga menyebutkan bahwa cinta merupakan motif segala gerak. Cintalah yang menyebabkan atom-atom menyatu atau bercerai berai. Cinta jugalah yang telah menyebabkan tumbuh-tumbuhan tumbuh dan berkembang. Tidak hanya itu, Rumi juga menyebutkan bahwa gerak alam yang didorong oleh cinta ilahi bukanlah gerak acak yang datar, melainkan gerak vertikal, gerak alam yang rendah menuju Tuhan.

Kalau ada yang bertanya, bukankah nama-nama dan sifat-sifat tuhan tidak hanya satu, cinta (rahmah)? Tuhan juga memiliki sifat kemurkaan?

Betul, asmaa’ Tuhan banyak sekali tidak terbatas pada rahmah, bahkan tidak hanay terbatas pada 99 nama, tetapi apabila dilakukan klasifikasi, Asmaa Tuhan diklasifikasikan kepada dua nama, yaitu cinta dan murka (rahmah dan ghadab)?. Tetapi perlu diingat bahwa cinta Allah meliputi segala sesuatu (QS. Al-A’raf: 7)

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

Ayat di atas juga diperkuat dengan hadits qudsi yang menyebutkan bahwa cinta Allah melampaui murkanya. إن رحمتي سبقت غضبي 

Wallahul Muwaffiq..