Sambut Haul Sang Ummi, Kiai Azaim Menulis Biografi Nyai Zai

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 17 Maret 2019 08:03 WIB
1434x ditampilkan Kabar Pesantren

“Sesuatu yang lebih berkesan dari itu semua di dalam kehidupan ini adalah peranan Ummi Zainiyah yang begitu besar… kondisi Abah Dhofir sendiri  saat hari-hari Azaim hadir bersamanya, telah memasuki usia yang relatif sepuh, dan pikiran beliau lebih terkonsentrasi pada aktifitas pendidikan di pesantren maupun masyarakat. Azaim sadar, bahwa hampir seluruh kehidupan Abah telah didedikasikan untuk itu. Terlebih lagi, pada waktu-waktu selanjutnya Ummi harus menjadi single parent bagi keluarga, memerankan diri sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra-putrinya

Secara pribadi, kalau boleh Azaim menilaidengan tanpa harus berlebihanUmmi  telah berhasil memerankan hampir semua tugas yang diserahkan ke hadapannya. Ummi Zainiyahyang tetesan bening dari bekas air wudlu'nya berkali-kali Azaim teguktelah benar-benar menjadi madrasah bagi masa depan putra-putrinya. Bahkan semasa hidup, Mbah As'ad pernah berkata kepada Ummi, "Be'en daddi gentena Ummina!" Demikianlah penilaian pribadi Mbah As'ad yang tulus mengalir dari bening hati beliau sebagai seorang ayah, terhadap sosok dan eksistensi putri sulungnya itu.  Tak heran jika suatu saat, di hari-hari yang lain, Ummi telah menjadi sosok ibu sejati, ibu bagi anak-anak, saudara-saudara, keluarga, kerabat, bahkan masyarakatnya.

Demi menyadari keadaan yang demikian, tentulah kami sebagai putra-putri Ummi Zainiyah harus jujur mengatakan bahwa diri kami sama sekali tak 'kan pernah mampu membayar hutang jasa kepada beliau selamanya, karena setiap anak sungguh telah bernafas dengan nyawa ibunya,”.

 

Begitulah penuturan K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, dalam buku terbarunya, “Risalah Hati: Trilogi Biografi Nyai Zainiyah As’ad”. Buku tersebut diterbitkan untuk menyambut acara Haul Nyai Zainiyah As’ad, 20 Maret mendatang. Buku ini terdiri dari kumpulan tiga buku kisah tentang Nyai Zai.

Bagian pertama, “Mbah Zai Story: Surat kepada Kholi Azaim di Makkah” yang ditulis oleh Ning Aluf, salah seorang cucu Nyai Zai. Bagian kedua, “Risalah Hati dari Makkah” sebagai jawaban atas tulisan Mbah Zai Story, yang ditulis Kiai Azaim sewaktu beliau masih nyantri di Makkah. Kedua bagian ini, ditulis oleh anak dan cucu Nyai Zai, sehingga kita memperoleh gambaran tentang Nyai Zai dari “dalam”, yang mungkin jarang diketahui oleh orang lain.

Bagian ketiga, mencoba melihat Nyai Zai dari ‘sisi luar’: “Nyai Zainiyah As’ad Penebar Suluh Jiwa” yang ditulis Syamsul A. Hasan. Tulisan ini mengungkap riwayat Nyai Zai dari kecil sampai wafatnya. Juga mengungkap hasil penelitian tentang sosok Nyai Zai sebagai ulama perempuan pesantren yang rajin menulis kitab. Salah satunya, kitab Zadu Az-Zaujayn (reinterpretasi kitab Uqud al-Lujjayn). Syamsul mengkaji kitab tersebut dari perspektif konseling perkawinan, terutama potret kepribadian keluarga sakinah. Kalau pasangan suami-istri memiliki kepribadian yang baik maka permasalahan dalam perkawinan dapat diselesaikan dengan sendirinya. Kepribadian itu akan memancar dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta keluarga sakinah.

 

Buku Risalah Hati ini ditulis dengan bahasa “seringan” mungkin dan mudah dicerna; penuh deskriptif dan cukup komunikatif, agar para pengikutnya yang awam di pelosok-pelosok pedalaman juga bisa menikmati. Begitu pula untuk rekan-rekan santri yang rata-rata masih remaja bisa menikmati tanpa mengerutkan kening. Penulis berharap semoga lembaran-lembaran sejarah kehidupan Nyai Zai ini, bisa menjadi cermin dan teladan kita.