Mahasiswa Harus Mempertimbangkan Kearifan Lokal dan Potensi Masyarakat

SYAMSUL A. HASAN Selasa, 13 Agustus 2019 22:28 WIB
159x ditampilkan Berita

KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo meminta para mahasiswa Universitas Ibrahimy yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) agar melatih kepekaan sosial di tengah-tengah masyarakat dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan menggali potensi masyarakat sehingga masyarakat berlahan-lahan berubah menjadi lebih baik. Mahasiswa juga harus menjaga akhlak mulia dalam pergaulan sehari-hari, karena masyarakat sangat merindukan akhlak yang baik. Dengan demikian, mahasiswa akan mempertaruhkan moralitas dan kesungguhan dalam melakukan pengabdian masyarakat.

 

Pesan Kiai Azaim tersebut, disampaikan kepada 740 mahasiswa peserta KKN. Peserta KKN tersebut, berangkat Rabu ini di 48 pelosok dusun yang tersebar di Kabupaten Situbondo dan Bondowoso. Menurut Kiai Azaim, masyarakat pedesaan akan menilai mahasiswa dari sisi akhlaknya bukan sekadar program-programnya. Jika mahasiswa melakukan kesalahan sedikit saja, akan menjadi pembicaraan seluruh masyarakat pedesaan. Ujung-ujungnya yang menjadi sasaran getahnya, pondok pesantren, tempat para mahasiswa menimba ilmu. Karena masyarakat punya penilaian dan persepsi beragam. Bahkan mereka akan menilai dan menjadikan rujukan seumur hidup. “Karena itu, kalian harus waspada daan hati-hati. Kalian mempertaruhkan nama baik lembaga, terutama pondok pesantren,” imbuh Kiai Azaim.

 

Dalam melakukan KKN Kiai Azaim berharap agar masyarakat berniat untuk mengamalkan ilmunya yang diterima di kampus dan pesantren. Kiai Azaim juga berharap agar mahasiswa tetap istiqomah membaca wirid yang dibaca di pesantren, terutama Ratibul Haddad.

 

Dalam menjalin interaksi dengan masyarakat, mahasiswa diharapkan agar memperhatikan kearifan lokal masyarakat setempat. Mahasiswa harus pintar berkomunikasi sesuai dengan bahasa masyarakat setempat. Mahasiswa harus menggunakan bahasa lokal yang sederhana, mudah dipahami masyarakat sehingga tujuannya tercapai. Namun mahasiswa jangan larut dengan seluruh keinginan masyarakat, apalagi keinginan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kepesantrenan. Mahasiswa harus bijak dan menawarkan program alternatif yang sesuai dengan nilai-nilai kepesantrenan.

 

Kiai Azaim mengharapkan agar mahasiswa membuat program yang sederhana, mudah dijalankan, dan berkesinambungan serta memperhatikan potensi masyarakat dan daerah setempat. Kiai Azaim sangat senang bila mahasiswa juga menebarkan dan memperkokoh aqaid saekat di tengah-tengah masyarakat. Kiai Azaim juga berharap agar mahasiswa melakukan refleksi dan evaluasi setiap malam, menjelang tidur: apa yang telah dilakukan siang harinya dan apa yang akan dikerjakan esok harinya.