Qimi, Sosok Santri Murah Senyum itu Tersenyum Selama-lamanya

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 4 Oktober 2020 08:56 WIB
5429x ditampilkan Berita

Usia manusia tak dapat ditebak. Siapa sangka, Qimi yang tampak sehat-wal afiat harus secepat itu menghadap sang Khalik, Tuhan semesta.

Setelah mengikuti musyawarah di asrama ia tampak kesakitan; seperti kejang-kejang. Dengan teman-temannya, ia diberi usapan air. Alhamdulillah, sadar. Kemudian kambuh lagi. Teman-temannya pun melapor kepada petugas kesehatan pesantren. Dengan sigap, petugas kesehatan dan beberapa temannya mengantar ke Klinik As’adiyah, milik pesantren. Namun di tengah perjalanan sudah tidak ada gerakan lagi. Pukul 23.00 sesampainya di klinik, dokter memeriksanya. Qimi dinyatakan wafat; inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…

Teman-temannya tidak ada yang menyangka Qimi, meninggal secepat itu. Karena ia tampak sehat wal afiat dan mengikuti musyawarah di asramanya. Bahkan tadi sorenya, ia bersama teman-temannya, seperti biasanya, bermain sepak bola.

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, selama masa pandemic ini memang menyediakan waktu berolah-raga sore hari. Para santri berolah raga di lingkungan pesantren.

Qimi, nama sapaan Muhammad Khairul Haqimi. Lahir di Korleko Lombok Timur, 2 Desember 2000. Ia mondok di Pesantren Sukorejo mulai tahun 2016. Ia berasrama di Sunan Gunung Jati no 24. Sedang pendidikannya; Madrasah Tsanawiyah kelas 1 dan semester 3 prodi Ilmu Komputer Fakultas Sains dan Teknologi.

Dalam pandangan teman-temannya dan gurunya, Qimi tergolong santri yang mudah bergaul dan murah senyum kepada siapa saja. Ia tergolong anak yang cerdas. “Indeks Prestasi Semesternya, 3,70,” kata Pak Lutfi, salah satu dosen Saintek.

Kecerdasan Qimi, diakui juga oleh Ustadz Hermanto. Ust. Hermanto mengenal Qimi sejak ia masuk di SMK Ibrahimy. Qimi, dalam pandangan Ust. Hermanto merupakan siswa yang rajin, murah senyum, sopan, dan santun. Ia juga aktif di organisasi Iksass. “Bahkan beberapa saat sebelum meninggal, Qimi sempat memikirkan agenda kegiatan Iksass melalui musyawarah di asramanya,” imbuh Ust. Hermanto.

Qimi sebagai aktifis, merupakan sosok yang energik dan bertanggung jawab. “Ia murah senyum dan selalu memberikan semangat teman-temannya. Ia sosok kosma yang bertanggung jawab dan menginspirasi,” tutur Pak Zaihul Fatta, Wakil Direktur Fakultas Saintek.

Qimi figur yang selalu tersenyum itu, kini tersenyum untuk selama-lamanya. Jenazahnya disholati oleh ribuan santri Sukorejo yang langsung diimami oleh K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pesantren. Jenazahnya dikebumikan di kampung halaman, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.