TOKOH PELOPOR & SABILILLAH (2) Pak Mustarib, Sosok Pengajak Para Penjudi untuk Berjuang

SYAMSUL A. HASAN Rabu, 11 November 2020 06:41 WIB
773x ditampilkan Berita

Sejarah perjalanan para Pelopor dalam menempuh hidup, amat berliku dan panjang. Kiai As’ad tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam membimbing mereka. Yang penting, mereka “dekat” dengan Kiai As’ad dengan cara melibatkan anggota Pelopor dalam berbagai kegiatan, terutama dalam pembangunan pesantren. Barangkali dengan berkah dekat kiai dan pesantren, mereka akhirnya mendapat hidayah.

Pak Mustarib, salah seorang tokoh Pelopor Bondowoso, misalnya. Pak Mustarib, walaupun masih senang judi, tapi tetap rajin nyabis ke Kiai As’ad. Kalau nyabis, ia mengambil uangnya dari saku kanan. Mengapa? Karena saku kanannya berisi uang dari hasil bertani. Sedangkan saku kirinya, uang hasil berjudi. “Saya, pada waktu nyabis ke kiai selalu mengambil uang dari saku kanan. Uang yang di saku kanan tersebut berasal dari tani, jadi halal. Karena itu, saya taruh di saku kanan, agar memudahkan saat pengambilan. Nyabis ke kiai itu harus pakai uang halal, ndak boleh hasil maen!”  jelasnya.

Lalu mengapa ia kemudian berhenti bermain? Pak Mustarib, mengakui karena debuen (dawuh) Kiai As’ad. Kiai As’ad dianggap mengetahui sebuah peristiwa yang belum terjadi. Pak Mustarib telah beberapa kali membuktikan. Ia menuturkan demikian:

Pada suatu hari, saya disuruh mencari bambu untuk pembangunan pesantren. Saya berusaha mencari sumbangan untuk membeli bambu. Saya memperoleh uang dari Haji Ismail, namun tidak mencukupi. Karena itu, kekurangannya saya ambil dari hasil thokthokan (aduan sapi dengan taruhan uang/judi).

Lalu bambu sebanyak empat truk itu saya bawa ke Sukorejo bersama Pak Martidjo. Kiai As’ad menanyakan bambu tersebut, termasuk masalah uang untuk membeli. Saya pun menceritakan yang sebenarnya.  Mengetahui sebagian uangnya diperoleh dari hasil thokthokan, Kiai kelihatan kurang suka. “Deddi nak-kanak neng pondok bi’ be’en e kerem deri hasille thokthokan (Jadi, anak-anak di pondok dengan kamu dikirim dari hasilnya judi, red)?” kata Kiai lalu pergi ke dalemnya Kiai Dhofier, menantunya.

Mendengar dawuh begitu, saya betul-betul tepeggeh (dada terasa sesak, red). Saya merasa banyak dosa kepada Kiai. Saya sangat menyesal.

Kemudian saya ke Kiai di dalemnya Kiai Dhofier. Di sana Kiai masih menanyakan masalah bambu dan asal-usulnya. Saya pun menceritakan kembali. Kiai nampak tidak suka. Beliau menyuruh saya berhenti thokthokan. “Kalau kamu tidak berhenti, sapi-sapimu akan diangkut (habis terjual) bahkan orang-orangnya,” kata Kiai.

Sesampainya di rumah, ternyata istri saya marah-marah. Karena seharian, sapi saya merreh (ngamuk) ke istri saya. Ia menyuruh menjual sapi itu. Besoknya saya jual dan saya pun berhenti thokthokan, aduan sapi. Takut dawuh Kiai.

 

Pak Mustarib, anggota Pelopor selalu berusaha mengajak teman-temannya menjadi anggota Pelopor. Pedagang sapi asal Pocangan Sukowono Jember ini, mulai merayu dan bercerita kepada teman-temannya, kalau nyabis—silaturrahmi—ke Kiai As’ad di Asembagus, usahanya akan lancar dan hidupnya enak. Kalau mereka tertarik, besoknya diajak nyabis ke Kiai As’ad. Dialah yang mengongkosi perjalanannya. Di sana mereka dicatat sebagai anggota Pelopor. Apabila mereka belum tertarik, besoknya mereka didatangi dan dirayu lagi. Begitu sampai berulang-ulang, ia kerjakan.

Bekas pengadu sapi yang direkrut Haji Tayyib ini, lalu mengisahkan cara mencari anggota Pelopor dengan menarik, berikut ini:

Saya selalu berpikir, bagaimana cara menarik teman-teman yang suka maen, untuk menjadi anggota Pelopor. Yang jelas, saya ndak boleh memakai kekerasan. Kiai As’ad dawuh, “Megha’ kalemmar aéngnga sé ta’ lekkoa (menangkap klemar—ikan sungai—tapi airnya jangan sampai keruh, red)”.

Pada suatu hari, saya, Ji Zainul, dan teman-teman yang sudah menjadi Pelopor, nanggap gludduk (sejenis permainan judi). Di tengah permainan, dilabrak polisi. Saya bilang kepada mereka agar tenang dan saya yang menanggung. Lalu saya dibawa ke penjara, sedang teman-teman saya, tetap melanjutkan gludduk.

Besoknya, saya kembali lagi dan teman-teman saya, masih asyik bermain. Mereka heran, melihat saya kembali begitu cepat. Saya bilang, saya berhasil lolos karena jimat dari Kiai As’ad. Mereka banyak yang ikut dan tertarik kepada saya. Tapi bandar gludduk agak bandel dan tetap bermain. Sewaktu memutar, dadunya jatuh. Saya bilang, ”Been jek pengkoh, mon norok enggok endik jimat, (kamu jangan angkuh, kalau ikut saya punya jimat, red)”.

Lalu si bandar judi tersebut mau mengikuti saya, dan saya mengajak nyabis ke Kiai As’ad. Jimat itu ampuh? Beh tak oneng  (ya kurang tahu, red) tapi ya jimat dari Kiai, ya pasti ampuh!